LAPORAN PENYELIDIKAN EPIDEMIOLOGI KERACUNAN PANGAN DI HOTEL PANGERAN PADANG


LAPORAN PENYELIDIKAN KLB KERACUNAN PANGAN

DI PANGERAN BEACH HOTEL KELURAHAN FLAMBOYAN BARU KECAMATAN PADANG BARAT KOTA PADANG

PADA TANGGAL 14 NOVEMBER 2007

(dr.Hj.Gentina, dr. Fionaliza, MKM, Mardia Nelisna, SKM)

 

I.                   PENDAHULUAN

1.      Latar Belakang

Penyakit yang disebabkan oleh pangan masih merupakan salah satu penyebab utama kematian dan kesakitan di Indonesia. Pangan merupakan jalur utama penyebaran patogen dan toksin yang diproduksi oleh mikroba patogen. Pangan juga dapat menimbulkan masalah serius jika mengandung racun akibat cemaran kimia, bahan berbahaya maupun racun alami yang terkandung dalam pangan, yang sebagian diantaranya menimbulkan KLB keracunan pangan.

Kejadian Luar Biasa (KLB) Keracunan Pangan adalah suatu kejadian dimana terdapat dua orang atau lebih yang menderita sakit dengan gejala yang sama atau hampir sama setelah mengkonsumsi pangan, dan berdasarkan analisis epidemiologi, pangan tersebut terbukti sebagai sumber penularan. KLB keracunan pangan masih menjadi masalah kesehatan masyarakat, terutama di perkotaan, pemukiman dan perindustrian.

Keracunan pangan secara umum disebabkan oleh bahan kimia beracun (tanaman, hewan, metabolit mikroba) kontaminasi kimia, mikroba patogen dan non bakteri (parasit, ganggang, jamur, virus, spongiform enchaphalopathies).

Gejala dan tanda-tanda klinik keracunan pangan bervariasi tergantung pada jenis etiologinya. Secara umum gejala keracunan pangan dapat digolongkan kedalam 6 kelompok, yaitu :

  1. Gejala utama yang terjadi pertama-tama pada saluran gastrointestinal atas (mual, muntah).
  2. Gejala sakit tenggorokan dan pernafasan.
  3. Gejala utama terjadi pada saluran gastrointestinal bawah (kejang perut, diare).
  4. Gejala neurologik (gangguan penglihatan, perasaam melayang, paralisis).
  5. Gejala infeksi umum (demam, menggigil, rasa tidak enak, letih, pembengkakan kelenjar limfe).
  6. Gejala alergik (wajah memerah, dan gatal-gatal)

        Untuk mengidentifikasi etiologi KLB keracunan pangan dapat dilakukan dengan mermeriksa spesimen tinja, air kencing, darah atau jaringan tubuh lainnya, pemeriksaan muntahan serta pemeriksaan sumber makanan yang dimakan. Dengan memperhatikan gejala dan didukung dengan hasil pemeriksaan laboratorium ini dapat diketahui penyebab KLB keracunan pangan.

Pada hari Rabu tanggal 14 November 2007 berdasarkan laporan peserta pertemuan Bimbingan, Penetapan dan Sosialisasi Sosialisasi UU Perlindungan Konsumen No. 8, GAKY, dan BPSK) yang diadakan oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Padang di Pangeran Beach Hotels Padang, telah terjadi keracunan pangan di Pangeran Beach Hotels. Pada hari tersebut jam 14.00  dilaporkan  sebanyak 21 peserta pertemuan mengalami keluhan mual, muntah, pusing serta sebagian kecil diare. Peserta pertemuan memakan snack berupa lemper (ketan yang diisi daging ayam), cake coklat) serta minum teh atau kopi susu pada saat selesai pembukaan acara pada jam 09.00 pagi. Lima belas menit kemudian  tiga orang peserta mulai merasakan mual, dan pusing. Kemudian beberapa waktu ke depan sebagian peserta mulai merasakan keluhan yang sama.

Pada jam 14.30 tanggal 14 November 2007 tsb, 17 orang peserta pertemuan dirujuk ke rumah sakit Yos Sudarso dan 4 orang dirujuk ke RS Selasih Berdasarkan pemeriksaan dokter di RS Selasih 1 orang pasien boleh pulang, sedangkan sisanya tetap dirawat di  kedua rumah sakit tersebut. Pada jam 14.30 telah dilakukan pengamanan dan pengambilan sample berupa lemper, cake coklat, susu serta teh. Pada tanggal 15 November 2007, jumlah korban keracunan yang dirujuk dan dirawat bertambah sebanyak 15 orang yang dirujuk ke RS Yos Sudarso. Jadi sampai tanggal 15 November 2007 jumlah korban keracunan yang dirujuk ke RS sebanyak 36 orang.

 

2.Tujuan

2.1 Tujuan Umum

Mengetahui besar dan luasnya masalah serta gambaran epidemiologi peningkatan kasus diduga keracunan pangan di Pangeran Beach Hotel Padang.

 

2.2 Tujuan Khusus

   - Memastikan KLB keracunan pangan.

   - Mengetahui distribusi kasus secara epidemiologi .

   - Megetahui Attack Rate kasus keracunan pangan

   - Mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian tersebut.

   - Mengetahui besarnya masalah yang ditimbulkan

 

  II.    METODOLOGI

Penyelidikan KLB keracunan pangan ini menggunakan rancangan penelitian epidemiologi deskriptif dengan menggunakan desain kross seksional. Data primer diperoleh dengan melakukan investigasi langsung di Pangeran Beach Hotel, RS Selasih dan Yos Sudarso Padang.

 

III. HASIL INVESTIGASI

Pada hari Rabu tanggal 14 November 2007 tim Surveilance Keracunan Pangan DKK turun ke Pangeran Beach Hotels serta ke RS Selasih dan Yos Sudarso untuk melakukan investigasi. Dari 80  orang yang ikut makan snack tersebut ternyata  sebanyak 36 orang merasakan keluhan.

Dari hasil wawancara didapatkan bahwa sebagian besar peserta yang memakan lemper merasakan keluhan.

 

Tabel 1 : Distribusi Gejala KLB Keracunan Pangan di Pangeran Beach Hotel  Kelurahan Flamboyan Baru  Kecamatan Padang Barat Pada Tanggal 14 November 2007

 

No

Gejala dan Tanda

Jumlah Kasus

%

1.

2.

3.

4.

5.

Mual

Muntah

Pusing

Kejang perut

Diare

36

36

34

7

7

100

100

94,4

19,4

19,4

 

Dari tabel diatas terlihat bahwa gejala yang paling dominan adalah mual dan muntah (100 %).

3.1      Definisi Kasus

Berdasarkan distribusi frekwensi  menurut gejala seperti terlihat pada Tabel 1 di dapatkan definisi kasus sebagai berikut  :

Orang yang hadir dalam jamuan makan snack pada pertemuan tanggal 14 November 2007 di Pangeran Beach Hotel Kelurahan Flamboyan Baru Kecamatan Padang Barat dengan gejala mual, muntah, dan pusing dengan atau tanpa gejala lain.

 

3.2      Waktu

            Waktu terjadinya penyakit dapat dilihat pada tabel masa inkubasi dan kurva epidemik.

Tabel 2 : Masa Inkubasi Kasus KLB Keracunan Pangan di Pageran Beach Hotel        Kelurahan Flamboyan Baru Kecamatan Padang Barat

Pada Tanggal 14 November 2007

 

No

Masa Inkubasi

Kasus

%

1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

10.

11.

12.

15 menit

20 menit

30 menit

1 jam

2 jam

2,5 jam

3 jam

3,5 jam

4 jam

4,5 jam

5 jam

5,5 jam

3

1

3

1

8

7

4

2

4

1

1

1

8,3

2,7

8,3

2,7

22,2

19,4

11,1

5,5

11,1

2,7

2,7

2,7

 

Gambar 1: Kurva Epidemik KLB Keracunan Pangan Di Pangeran Beach Hotel

Kelurahan Flamboyan Baru Kecamatan Padang Barat.

r

Waktu terpapar tanggal 14 November mulai jam 09.00 s/d 09.30 :

·         Median masa inkubasi 2 jam (120 menit)

·         Masa inkubasi terpendek =  15 menit

·         Masa inkubasi terpanjang = 5,5 jam (330 menit ).

·         Masa inkubasi rata-rata = 132 menit

Dari masa inkubasi rata-rata dan gejala yang dominan muncul mual dan muntah 100 % diduga penyebabnya adalah Staphylococcuc Aureus dan Bacillus Aureus.

 

Attack Rate :

            Pada kasus ini di dapatkan attack rate adalah 36/80 x 100 % = 45 %, dengan case fatality rate 0 %.

  

3.3              Orang

Tabel 3 : Distribusi Kasus KLB Keracunan Pangan di Pangeran Beach Hotel

Kelurahan Flamboyan Baru Kecamatan Padang Barat

Menurut  Golongan Umur

 
 

PROPORSI KASUS BERDASARKAN GOLONGAN UMUR

 

15-19 th

3%

 

 

20-44 th

47%

 

 

45-54 th

42%

 

 

55-64 th

8%

 

 

 
 

 

 

Dari diagram pie diatas terlihat bahwa kasus terbanyak terjadi pada golongan umur 20-44 tahun (47,2 %) diikuti golongan umur 45-54 th (41,6 %).

 

Tabel 4 : Jumlah Kasus KLB Keracunan Pangan di Pangeran Beach Hotel

Kelurahan Flamboyan Baru Kecamatan Padang Barat

Menurut  Jender

 

No

Jenis Kelamin

Kasus

%

Meninggal

1.

 

2.

Laki-laki

 

Perempuan

25

 

11

69,4

 

30,6

0

 

0

 

Dari tabel diatas terlihat bahwa laki-laki merupakan kasus terbanyak (69,4 %).

 

 

 

3.3       Tempat

            Tempat Kejadian adalah Pangeran Beach Hotel kelurahan Flamboyan Baru Kecamatan Padang Barat Padang.

 

3.4       Pemeriksaan Laboratorium

Untuk membantu menegakkan penyebab keracunan pangan ini dilakukan pengambilan sampel berupa 200 gram lemper dan cake coklat, kopi, serta susu yang  kemudian dikirim ke Balai Pemeriksaan Obat dan Makanan di Gunung Panggilun. Hasil pemeriksaan Laboratorium menunjukkan adanya Staphylococcus Aures.

 

IV. TINDAKAN YANG TELAH DILAKUKAN

1.      Pelacakan kasus ke lapangan.

2.     Pengamanan, pengambilan, serta pengiriman sample Ke laboratorium Kesehatan Gunung

       Pangilun  Padang.

3.      Pengobatan penderita yang dirujuk ke RS Yos Sudarso dan Selasih

4.      Pengawasan dan penyuluhan di Tempat Pengolahan Makanan.

 

V.      KESIMPULAN

          Berdasarkan hasil investigasi dapat disimpulkan:

  1. Telah terjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) Keracunan Pangan di Pangeran Beach Hotel pada tanggal  14 November sampai 15 November 2007.
  2. Kasus lebih banyak menyerang Laki-laki (69,4%)  dibanding perempuan dan lebih banyak menyerang usia 20-44 tahun  (47 %). Kasus dimulai tanggal 14 November 2007 dan berakhir tanggal 15 November 2007.
  3. Attack Rate Keracunan makanan  sebesar 45 %  dengan Case Fatality Rate 0%.
  4. Dari gejala, masa inkubasi rata-rata serta keluhan yang dirasakan penderita keracunan makanan, penyebab keracunan ini dicurigai  adalah Bacillus Cereus atau Stapyllococcus Aureus. Hasil laboratorium menunjukkan positif Staphylococcus Aureus.

 

VI.          SARAN

Perlunya ditingkatkan penyuluhan tentang cara mengolah, serta menyimpan makanan yang higienis.       

 

 

-admin-

About these ads

4 responses to “LAPORAN PENYELIDIKAN EPIDEMIOLOGI KERACUNAN PANGAN DI HOTEL PANGERAN PADANG

  1. Mambaca kasus yang terjadi memang ini merupakan kasus keracunan makanan. Gejala mual dan muntah yang dominan memang disebabkan terutama oleh S.aureus dan B.cereus. Dengan terbukti adanya S.aureus di makanan, kita harus hati2 dalam memberi kesimpulan, karena makanan memang tidak mungkin steril, pasti ada bakteri, apalagi bakteri ini adalah flora normal kulit. Seharusnya harus bisa dibuktikan adanya produksi toksin dari S.aureus, karena penyebab keracunan adalah toksinnya, bukan bakterinya.

  2. apa yang disajikan sudah sistematis akan tetapi perlu dijelaskan bagaimana proses terjadinya intoksifikasi oleh bakteri Stapylococcus pada makanan dan minuman tsb….penting bagi masyarakat umum tanks

  3. berdasarkan secara konsep sungguh laporan tersebut sangat singkat dan memuat bagian besar tentang bagaimana laporan klb keracunan makanan, tapi belum merangkap tertang distribusi epidemiologi dari man, waktu dan tempat secara mendetail, dan bagaimana data yang diambil tersebut menjadi patokan tindaklanjut…ttd epidemiologi Comunity STIKES HANG TUAH PEKANBARU

  4. Yah mudah mudahan ke depan lebih baik dan menarik, soalnya kalo saya mencermati, kok pengaturanya sekenanya, apa memang suatu tulisan setelah dimasukkan web jadi gak karuan atau gak di edit lagi kali, trus ada gambar 1. kurva Epidemiologi ? kok gak tampak, kalo ditampilkan kan lebih menarik dan termasuk common source ?, tak apalah aku seneng kebetulan aku suka baca ” PEDOMAN SE PENY. MENULAR, DEPKES TH 1994 ” dan UU wabah

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s