P2P


bcg

Tuberculosis atau lebih sering disebut dengan TBC adalah infeksi kronis bakteri yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Sebagian besar orang yang terinfeksi oleh bakteri tuberculosis menderita TBC tanpa mengalami gejala, hal ini yang disebut dengan latent tuberculosis. Jika daya tahan tubuh mengalami penurunan karena usia, malnutrisi, infeksi seperti HIV, atau karena faktor lain, bakteri akan aktif dan menyebabkan active tuberculosis.

Berdasarkan data WHO, setiap tahun, sekitar 8 juta orang di seluruh dunia mengalami active tuberculosis dan hampir 2 juta diantaranya meninggal dunia.

TBC seperti telah disebutkan sebelumnya disebabkan oleh bakteri yang disebut Mycobacterium tuberculosis. Bakteri ini biasanya menyerang paru-paru. Akan tetapi, bakteri tuberculosis juga dapat menyerang bagian lain tubuh seperti ginjal, spine, dan otak.

TBC menyebar melalui udara dari satu orang ke orang lainnya. Bakteri tuberculosis terdapat pada udara ketika orang dengan active tuberculosis mengalami batuk atau bersin. Orang-orang yang ada di sekitarnya mungkin menghirup udara yang mengandung bakteri ini dan selanjutnya menjadi terinfeksi.

Pada orang yang terinfeksi oleh bakteri tuberculosis, secara alamiah tubuh memiliki mekanisme pertahanan untuk melawan perkembangan bakteri. Akibatnya bakteri menjadi inaktif, tetapi masih tetap tinggal di dalam tubuh. Inilah yang disebut dengan latent tuberculosis. Pasien yang mengalami latent tuberculosis memiliki ciri-ciri:

1. Tidak mengalami gejala TBC.

2. Tidak merasa sakit.

3. Tidak dapat menyebarkan bakteri tuberculosis.

4. Biasanya pada PPD test (tuberculosis skin test reaction) memberikan hasil positif.

5. Pada beberapa kasus, dapat mengalami perkembangan menjadi active tuberculosis jika tidak menerima terapi.

Apabila pasien yang tidak menerima pengobatan, mengalami penurunan daya tahan tubuh maka latent tuberculosis akan berkembang menjadi active tuberculosis. Active tuberculosis adalah kondisi di mana sistem imun tubuh tidak mampu untuk melawan bakteri tuberculosis yang terdapat dalam tubuh, sehingga menimbulkan infeksi terutama pada bagian paru-paru. Gejala untuk active tuberculosis meliputi :

1. Batuk berkepanjangan selama 3 minggu atau lebih.

2. Nyeri pada bagian dada.

3. Batuk berdahak atau berdarah.

4. Penurunan berat badan.

5. Demam, menggigil, dan berkeringat pada malam hari.

6. Kelelahan dan kehilangan selera makan.

Diagnosis untuk TBC dapat dilakukan dengan Tuberculin test dan Uji mikrobiologi.

Sasaran untuk terapi TBC adalah pada bakteri Mycobaterium tuberculosis dan pada sistem imun tubuh. Tujuan terapi untuk TBC adalah sedapat mungkin bersifat preventif atau pencegahan timbulnya infeksi oleh Mycobacterium tuberculosis dan bila telah terjadi infeksi maka menghilangkan gejala TBC, mencegah keparahan, dan sembuh. Beberapa cara yang dapat digunakan untuk terapi TBC adalah :

1. Penggunaan vaksin BCG (bacille Calmette -Guerin).

2. Pengobatan pada pasien latent tuberculosis.

3. Pengobatan pada pasien active tuberculosis dengan menggunakan antibiotik (isoniazid, rifampin, dsb) selama kurang         lebih 6 bulan.

Selanjutnya yang akan dibahas lebih lanjut adalah tentang penggunaan vaksin BCG untuk pencegahan TBC.

Vaksin merupakan suspensi mikroorganisme yang dilemahkan atau dimatikan (bakteri, virus, atau riketsia) yang diberikan untuk mencegah, meringankan, atau mengobati penyakit yang menular. Vaksin BCG merupakan suatu attenuated vaksin1 yang mengandung kultur strain Mycobacterium bovis dan digunakan sebagai agen imunisasi aktif terhadap TBC dan telah digunakan sejak tahun 1921. Walaupun telah digunakan sejak lama, akan tetapi efikasinya menunjukkan hasil yang bervariasi yaitu antara 0 – 80% di seluruh dunia. Vaksin BCG secara signifikan mengurangi resiko terjadinya active tuberculosis dan kematian. Efikasi dari vaksin tergantung pada beberapa faktor termasuk diantaranya umur, cara/teknik vaksinasi, jalur vaksinasi, dan beberapa dipengaruhi oleh faktor lingkungan.

Vaksin BCG sebaiknya digunakan pada infants, dan anak-anak yang hasil uji tuberculinnya negatif dan yang berada dalam lingkungan orang dewasa dengan kondisi terinfeksi TBC dan tidak menerima terapi atau menerima terapi tetapi resisten terhadap isoniazid atau rifampin. Selain itu, vaksin BCG juga harus diberikan kepada tenaga kesehatan yang bekerja di lingkungan dengan pasien infeksi TBC tinggi. Sebelum dilakukan pemberian vaksin BCG (selain bayi sampai dengan usia 3 bulan) setiap pasien harus terlebih dahulu menjalani skin test. Vaksin BCG tidak diindikasikan untuk pasien yang hasil uji tuberculinnya posistif atau telah menderita active tuberculosis, karena pemberian vaksin BCG tidak memiliki efek untuk pasien yang telah terinfeksi TBC.

Vaksin BCG merupakan serbuk yang dikering-bekukan untuk injeksi berupa suspensi. Sebelum digunakan serbuk vaksin BCG harus dilarutkan dalam pelarut khusus yang telah disediakan secara terpisah. Penyimpanan sediaan vaksin BCG diletakkan pada ruang atau tempat bersuhu 2 – 8oC serta terlindung dari cahaya. Pemberian vaksin BCG biasanya dilakukan secara injeksi intradermal/intrakutan (tidak secara subkutan) pada lengan bagian atas atau injeksi perkutan sebagai alternatif bagi bayi usia muda yang mungkin sulit menerima injeksi intradermal. Dosis yang digunakan adalah sebagai berikut:

1. Untuk infants atau anak-anak kurang dari 12 bulan diberikan 1 dosis vaksin BCG sebanyak 0,05ml (0,05mg).

2. Untuk anak-anak di atas 12 bulan dan dewasa diberikan 1 dosis vaksin BCG sebanyak 0,1 ml (0,1mg).

Perlindungan yang diberikan oleh vaksin BCG dapat bertahan untuk 10 – 15 tahun. Sehingga re-vaksinasi pada anak-anak umumnya dilakukan pada usia 12 -15 tahun.

Vaksin BCG dikontra-indikasikan untuk pasien yang mengalami gangguan pada kulit seperti atopic dermatitis, serta baru saja menerima vaksinasi lain (perlu ada interval waktu setidaknya 3 minggu). Vaksin BCG juga tidak diberikan untuk :

1. Pasien dengan gangguan imunitas (immunosuppressed) seperti pasien HIV, pasien yang mengkonsumsi obat-obat                 kortikosteroid (immunosuppressan), atau baru saja menerima transplantasi organ.

2. Wanita hamil dan menyusui, walaupun belum ada data yang menunjukkan efek bahaya dari pemberian vaksin BCG             terhadap wanita hamil dan menyusui.

Beberapa adverse reaction yang mungkin terjadi setelah pemberian vaksin BCG antara lain:

  • Nyeri pada tempat injeksi, terjadi ulcer atau keloid karena kesalahan pada saat injeksi.
  • Kelebihan dosis dan pemberian vaksin pada pasien dengan tuberculin positif.
  • Sakit kepala, demam, dan timbul reaksi alergi

Beberapa contoh vaksin BCG yang tersedia di Indonesia adalah : Vaksin BCG kering (Bio Farma) dan BCG Vaccine SSI (Statent Serum Institut – Denmark).

1 Attenuated vaksin : vaksin yang disiapkan dari mikroorganisme atau virus hidup yang dibiakkan di bawah kondisi yang         tidak sesuai agar kehilangan virulensinya tetapi tetap mempunyai kemampuan untuk menginduksi kekebalan.(yosefw.wordpress.com)

-fz-

Flu Babi atau Swine Flu/Influenza adalah penyakit saluran pernafasan pada babi, yang disebabkan virus influenza jenis A. Virus flu ini menyebabkan kesakitan yang berat pada babi tetapi angka kematiannya rendah. Virus ini (type A H1N1 virus) pertama kali di isolasi dari babi pada tahun 1930.

Seperti semua virus influenza, virus flu babi berubah secara konstan. Babi bisa terinfeksi virus avian influenza (virus flu burung) dan virus flu manusia. Jika berbagai virus ini menyerang babi, maka virus ini akan mampu membentuk spesien2 virus baru, yang merupakan gabungan virus avian, manusia dan swine. Sampai saat ini sudah berhasil diisolasi sebanyak 4 sub-type A: H1N1, H1N2, H3N2, and H3N1. H1N1 merupakan virus jebis baru yang baru saja ditemukan pada babi.

Virus Swine flu sebetulnya secara normal tidak menginfeksi manusia. Namun secara sporadis dilaporkan adanya infeksi virus ini pada manusia seperti yang terjadi di US dan mexico. Seringnya orang yang terkena adalah orang2 yang bekerja pada peternakan/industri yang berhubungan dengan babi. Juga dilaporkan adanya penyebaran antar manusia.

Gejala swine flu pada manusia mirip dengan gejala virus influenza manusia berupa: demam, pegel2, lemes, hilang nafsu makan, dan batuk. Beberapa pasien yang terkena swine flu mengeluhkan pilek, sakit tenggorokan, mual, muntah dan diare.

Virus swine influenza tidak ditularkan melalui makanan. Memasak makanan sampai suhu 160°F akan mematikan virus ini. Virus influenza bisa menular dari babi ke manusia atau sebaliknya. Infeksi pada manusia terjadi terutama jika berada dekat2 babi yang terinfeksi seperti berada dalam kandang babi dll. Infeksi dari manusia ke manusia lain juga bisa terjad, mirip sperti flu manusia, yaitu melalui bersin atau batuk. Bisa juga lewat sentuhan tangan, kemudian tangan tersebut menyentuh mulut atau hidung.

Untk mendiagnosis infeksi swine influenza, dibutuhkan koleksi spesimen dari saluran nafas dalam 4-5 hari pertama. Spesimen ini8 kemudian diperiksakan di Laboratorium.

Apa saja gejala flu babi?

Gejala utama flu babi mirip dengan gejala influenza pada umumnya seperti : demam, batuk, pilek, letih dan sakit kepala. Beberapa pasien dapat mengalami mual, muntah dan diare.

Penyakit ini dapat jatuh ke arah yang lebih buruk sehingga pasien mengalami kesulitan untuk bernafas dan memerlukan alat bantu nafas (ventilator). Bila ada bakteri yang ikut ikutan menginfeksi paru paru maka pasien dapat mengalami radang paru paru atau pneumonia. Beberapa diantaranya dapat mengalami gejala kejang kejang. Kematian umumnya terjadi karena adanya infeksi sekunder bakteri pada paru paru sehingga diperlukan antibiotika yang pas untuk mengatasi infeksi tersebut.

Bagaimana mendiagnosa flu babi?

Diagnosa flu babi ditegakan berdasarkan gejala klinis pasien dan riwayat kontak dengan mereka meraka yang memiliki gejala seperti diatas. Selanjutnya dilakukan pemeriksaan lendir atau dahak yang berasal dari tenggorokan pasien. Pemeriksaan ini gunanya untuk membedakan apakah virus yang menginfeksi penderita tersebut termasuk virus tipe A atau B. Bila ternyata hasilnya adalah virus tipe B maka dapat dipastikan bahwa pasien tersebut bukan terinfeksi flu babi. Namun bila ternyata hasilnya adalah virus tipe A maka ada kemungkinan penderita tersebut menderita flu babi atau terinfeksi virus H1N1. Sampel ini selanjutnya dikirim ke laboratorium yang lebih lengkap untuk memastikan adanya antigen virus flu babi sehingga diagnosa flu babi dapat ditegakan dengan pasti.

Seberapa lama masa penularan virus flu babi?

Orang yang menderita flu babi A (H1N1) menurut para ahli akan tetap menularkan penyakitnya sampai hari ketujuh. Jika sampai hari ketujuh ternyata penyakitnya belum membaik maka dianggap orang tersebut masih dapat menularkan penyakitnya sampai gejala flu benar benar hilang. Anak anak khususnya balita memiliki potensi waktu penularan yang lebih panjang.

Periode penularan penyakit flu babi masih terggantung lagi pada jenis atau strain dari virus H1N1. Jika pasien di rawat di rumah maka dianjurkan untuk tidak keluar rumah dahulu sampai penyakit yang diderita benar benar sembuh kecuali yang bersangkutan segera ke dokter atau ke rumah sakit.

Bagaimana mengobati flu babi?

Meskipun telah lama ditemukan vaksin untuk mencegah penularan virus influenza, namun vaksin untuk virus flu babi (H1N1) sampai saat ini belum ada. Saat ini beberapa laboratorium pemerintah yang dibiayai oleh WHO sedang mengembangkan penelitian untuk menemukan vaksin virus flu babi.

Dua obat anti virus yang dipercaya mampu mencegah bertambah parahnya flu babi adalah zanamivir (Relenza) dan oseltamivir (Tamiflu). Penggunaan obat ini tidak boleh sembarangan karena ditakutkan akan terjadi resistensi virus terhadap kedua obat tersebut. Obat ini juga tidak direkomendasikan untuk gejala flu yang telah muncul lebih dari 48 jam. Pada keadaan yang berat, pasien mungkin membutuhkan penanganan intensif lebih lanjut di rumah sakit.

Bagaimana cara mencegah penularan flu babi?

Cara paling ampuh untuk mencegah penularan virus flu babi pada prinsipnya sama dengan cara mencegah penularan virus influenza yang lain yaitu vaksinasi. Sayangnya vaksin untuk flu babi sampai saat ini belum ditemukan.

Cara lain untuk mencegah penularan virus ini adalah dengan meminimalisir kontak dengan virus seperti mencuci tangan sesering mungkin, jangan menyentuh wajah anda terutama hidung dan mulut serta menghindari kontak dekat dengan orang yang sedang menderita flu.

Pencegahan penularan juga bisa dilakukan oleh mereka yang telah terinfeksi dengan cara : menghindari keramaian dan selalu tinggal di rumah. Jangan bekerja dan bersekolah dahulu sampai keadaan membaik. Hindari bersin, batuk dan berbicara terlalu dekat dengan orang lain.(blogdokter.com)

-fz-

flu sngp

“Flu Singapura” sebenarnya adalah penyakit yang didunia kedokteran dikenal sebagai Hand, Foot, and Mouth Disease (HFMD) atau penyakit Kaki, Tangan dan Mulut ( KTM )
Penyakit KTM ini adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus RNA yang masuk dalam famili Picornaviridae (Pico, Spanyol = kecil ), Genus Enterovirus ( non Polio ). Genus yang lain adalah Rhinovirus, Cardiovirus, Apthovirus. Didalam Genus enterovirus terdiri dari Coxsackie A virus, Coxsackie B virus, Echovirus dan Enterovirus.
Penyebab KTM yang paling sering pada pasien rawat jalan adalah Coxsackie A16, sedangkan yang sering memerlukan perawatan karena keadaannya lebih berat atau ada komplikasi sampai meninggal adalah Enterovirus 71. Berbagai enterovirus dapat menyebabkan berbagai penyakit.

EPIDEMIOLOGI:
Penyakit ini sangat menular dan sering terjadi dalam musim panas. KTM adalah penyakit umum/?biasa? pada kelompok masyarakat yang ?crowded? dan menyerang anak-anak usia 2 minggu sampai 5 tahun ( kadang sampai 10 tahun ).
Orang dewasa umumnya kebal terhadap enterovirus. Penularannya melalui kontak langsung dari orang ke orang yaitu melalui droplet, pilek, air liur (oro-oro), tinja, cairan dari vesikel atau ekskreta. Penularan kontak tidak langsung melalui barang, handuk, baju, peralatan makanan, dan mainan yang terkontaminasi oleh sekresi itu. Tidak ada vektor tetapi ada pembawa (?carrier?) seperti lalat dan kecoa. Penyakit KTM ini mempunyai imunitas spesifik, namun anak dapat terkena KTM lagi oleh virus strain Enterovirus lainnya. Masa Inkubasi 2 ? 5 hari.

GAMBARAN KLINIK :

Mula-mula demam tidak tinggi 2-3 hari, diikuti sakit leher (pharingitis), tidak ada nafsu makan, pilek, gejala seperti ?flu? pada umumnya yang tak mematikan. Timbul vesikel yang kemudian pecah, ada 3-10 ulcus dumulut seperti sariawan ( lidah, gusi, pipi sebelah dalam ) terasa nyeri sehingga sukar untuk menelan.
Bersamaan dengan itu timbul rash/ruam atau vesikel (lepuh kemerahan/blister yang kecil dan rata), papulovesikel yang tidak gatal ditelapak tangan dan kaki.
Kadang-kadang rash/ruam (makulopapel) ada dibokong. Penyakit ini membaik sendiri dalam 7-10 hari.
Bila ada muntah, diare atau dehidrasi dan lemah atau komplikasi lain maka penderita tersebut harus dirawat. Pada bayi/anak-anak muda yang timbul gejala berat , harus dirujuk kerumah sakit sebagai berikut :

o Hiperpireksia ( suhu lebih dari 39 der. C).
o Demam tidak turun-turun (?Prolonged Fever?)
o Tachicardia.
o Tachypneu
o Malas makan, muntah atau diare dengan dehidrasi.
o Lethargi
o Nyeri pada leher,lengan dan kaki.
o Serta kejang-kejang.

Komplikasi penyakit ini adalah :

o Meningitis (aseptic meningitis, meningitis serosa/non bakterial)
o Encephalitis ( bulbar )
o Myocarditis (Coxsackie Virus Carditis) atau pericarditis
o Paralisis akut flaksid (?Polio-like illness? )

Satu kelompok dengan penyakit ini adalah :

1. Vesicular stomatitis dengan exanthem (KTM) – Cox A 16, EV 71 (Penyakit ini)
2. Vesicular Pharyngitis (Herpangina) – EV 70
3. Acute Lymphonodular Pharyngitis – Cox A 10

LABORATORIUM :

Sampel ( Spesimen ) dapat diambil dari tinja, usap rektal, cairan serebrospinal dan usap/swab ulcus di mulut/tenggorokan, vesikel di kulit spesimen atau biopsi otak.
Spesimen dibawa dengan ?Hank?s Virus Transport?. Isolasi virus dencara biakan sel dengan suckling mouse inoculation.
Setelah dilakukan ?Tissue Culture?, kemudian dapat diidentifikasi strainnya dengan antisera tertentu / IPA, CT, PCR dll. Dapat dilakukan pemeriksaan antibodi untuk melihat peningkatan titer.

Diagnosa Laboratorium adalah sebagai berikut :

1. Deteksi Virus :

o Immuno histochemistry (in situ)
o Imunofluoresensi antibodi (indirek)
o Isolasi dan identifikasi virus.
Pada sel Vero ; RD ; L20B
Uji netralisasi terhadap intersekting pools
Antisera (SCHMIDT pools) atau EV-71 (Nagoya) antiserum.

2. Deteksi RNA :

RT-PCR
Primer : 5? CTACTTTGGGTGTCCGTGTT 3?
5? GGGAACTTCGATTACCATCC 3?
Partial DNA sekuensing (PCR Product)

3. Serodiagnosis :

Serokonversi paired sera dengan uji serum netralisasi terhadap virus EV-71 (BrCr, Nagoya) pada sel Vero.
Uji ELISA sedang dikembangkan.
Sebenarnya secara klinis sudah cukup untuk mendiagnosis KTM, hanya kita dapat mengatahui apakah penyebabnya Coxsackie A-16 atau Enterovirus 71.

TATALAKSANA :

o Istirahat yang cukup
o Pengobatan spesifik tidak ada.
o Dapat diberikan :

Immunoglobulin IV (IGIV), pada pasien imunokompromis atau neonatus

Extracorporeal membrane oxygenation.

o Pengobatan simptomatik :
Antiseptik didaerah mulut
Analgesik misal parasetamol
Cairan cukup untuk dehidrasi yang disebabkan sulit minum dan karena demam
Pengobatan suportif lainnya ( gizi dll )
Penyakit ini adalah ?self limiting diseases? ( berobat jalan ) yang sembuh dalam 7-10 hari, pasien perlu istirahat karena daya tahan tubuh menurun. Pasien yang dirawat adalah yang dengan gejala berat dan komplikasi tersebut diatas.

PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN PENYAKIT:
Penyakit ini sering terjadi pada masyarakat dengan sanitasi yang kurang baik. Pencegahan penyakit adalah dengan menghilangkan ?Overcrowding?, kebersihan (Higiene dan Sanitasi). Lingkungan dan perorangan misal cuci tangan, desinfeksi peralatan makanan, mainan, handuk yang memungkinkan terkontaminasi.
Bila perlu anak tidak bersekolah selama satu minggu setelah timbul rash sampai panas hilang. Pasien sebenarnya tak perlu diasingkan karena ekskresi virus tetap berlangsung beberapa minggu setelah gejala hilang, yang penting menjaga kebersihan perorangan.
Di Rumah sakit ? Universal Precaution? harus dilaksanakan.
Penyakit ini belum dapat dicegah dengan vaksin (Imunisasi)

UPAYA PEMERINTAH DALAM HAL INI :

Meningkatkan survailans epidemiologi (perlu definisi klinik)
Memberikan penyuluhan tentang cara-cara penularan dan pencegahan KTM untuk memotong rantai penularan.
Memberikan penyuluhan tentang tamda-tanda dan gejala KTM
Menjaga kebersihan perorangan.
Bila anak tidak dirawat, harus istirahat di rumah karena :
o Daya tahan tubuh menurun.
o Tidak menularkan kebalita lainnya.
Menyiapkan sarana kesehatan tentang tatalaksana KTM termasuk pelaksanaan ?Universal Precaution?nya.

Hand-Foot-Mouth Disease (HFMD)

Etiologi : Coxsackievirus A 16
Cara Penularan : Droplets
Masa Inkubasi : 4 ? 6 Hari

Manifestasi Klinis :

Masa prodromal ditandai dengan panas subfebris, anoreksia, malaise dan nyeri tenggorokan yang timbul 1 ? 2 hari sebelum timbul enantem. Enantem adalah manifestasi yang paling sering pada HFMD. Lesi dimulai dengan vesikel yang cepat menjadi ulkus dengan dasar eritem, ukuran 4-8 mm yang kemudian menjadi krusta, terdapat pada mukosa bukal dan lidah serta dapat menyebar sampai palatum uvula dan pilar anterior tonsil. Eksantema tampak sebagai vesiko pustul berwarna putih keabu-abuan, berukuran 3-7 mm terdapat pada lengan dan kaki, pada permukaan dorsal atau lateral, pada anak sering juga terdapat di bokong. Lesi dapat berulang beberapa minggu setelah infeksi, jarang menjadibula dan biasanya asimptomatik, dapat terjadi rasa gatal atau nyeri pada lesi. Lesi menghilang tanpa bekas.

Diagnosis :

Manifestasi klinis dan isolasi virus dengan preparat Tzank.

Diagnosis Banding : Varisela, herpes

Terapi : Simptomatis

(infeksi.com)

-fz-

Daur Hidup Aedes aegypti

Meski belum dipastikan lewat pemeriksaan serologi contoh darah, dari gejala klinis yang dialami penderita, hampir dipastikan penyakit ? Misterius ? yang melanda Penduduk Bolaang Mangondow ( Sulawesi Utara ), Jember ( Jawa Timur ) dan Kabupaten Bandung ( Jawa Barat ) adalah ? Demam Chikungunya ?. Hal itu dikemukakan Direktur Pemberantasan Penyakit Bersumber Binatang ( P2B2 ) Direktorat Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan ( P2M & PL ) Departemen Kesehatan, Dr Thomas Suroso, MPH ( Selasa 2 Februari 2003 ). Saat ini tim dari P2M&PL, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan ( Litbangkes ) serta unit penelitian Angkatan Laut AS ( NAMRU ) sedang ke Bolaang Mangondow, Sedangkan contoh darah dari penderita dari Kabupaten Bandung ( Cikalongwetan ) dan Jember akan diperiksa di laboratorium Litbangkes.
Sejauh ini di Kecamatan Cikalongwetan, Kabupaten Bandung ( Desa Mandalamukti ) tercatat ada 218 penderita, di Jember , demikian Kepala Sub-Direktorat Arbovirosis Dr. Rita Kusriastuti,Msc, ada 149 penderita ( Desa BalungLor ) dan kabupaten Bolaang Mangondow, 608 penderita. Chikungunya berasal dari bahasa Shawill yang berarti ? Yang Berubah Bentuk atau Bungkuk ? mengacu pada postur penderita yang membungkuk akibat nyeri sendi hebat ( Arthralgia ), Nyeri sendi ini menurut lembar data keselamatan ( MSDS ) Kantor Keamanan Laboratorium Kanada, terutama terjadi pada ? Lutut Pergelangan Kaki Serta Persendian Tangan Dan Kaki ?.
Gejala Demam Chikungunya mirip dengan Demam Berdarah Dengue yaitu Demam yang tinggi, menggigil, sakit kepala, mual, muntah, sakit perut, nyeri sendi dan otot serta bintik-bintik merah pada kulit terutama badan dan lengan. Bedanya dengan demam berdarah dengue, pada chikungunya tidak ada perdarahan hebat, renjatan ( Schok ) maupun kematian. Masa inkubasi dari demam Chikungunya dua sampai empat hari. Manifestasi penyakit berlangsung tiga sampai 10 hari . Virus ini termasuk ? Self Limiting Disease ? alias hilang dengan sendirinya. Namun rasa nyeri masih tertinggal dalam hitungan minggu sampai bulan. Tak ada vaksin maupun obat khusus untuk Chikungunya. ?Cukup minum obat penurun panas dan penghilang rasa sakit yang bisa dibeli di warung, yang penting cukup istirahat, minum dan makanan bergizi ?, saran Thomas.
Menurut situs Universitas Standford, virus Chikungunya masuk keluarga Togaviridae, genus alphavirus, dan ditularkan Nyamuk Aedes Aegypti. Virus ini terus menimbulkan epidemi di wilayah tropis Asia dan Afrika sejak diidentifikasi tahun 1952 di Afrika Timur. Di Indonesia Demam Chikungunya dilaporkan pertama kali di Samarinda tahun 1973. Kemudian berjangkit di Kuala Tunkal, Jambi, tahun 1980. Tahun 1983 merebak di martapura, ternate dan Yogyakarta. Setelah vakum hampir 20 tahun, awal tahun 2001 kejadian luar biasa ( KLB ) demam Chikungunya terjadi di Muara Enim, Sumatera Selatan dan Aceh. Disusul Bogor bulan Oktober. Demam Chikungunya berjangkit lagi di Bekasi ( Jawa Barat ), Purworejo dan Klaten ( Jawa Tengah ) tahun 2002. Dari literatur yang saya baca, memang ada gelombang epidemi 20 tahunan. Mungkin terkait perubahan iklim dan cuaca, ujar Thomas. Penjelasan lain, menurut situs Keamanan Laboratorium Kanada, antibodi yang timbul dari penyakit ini membuat penderita kebal terhadap serangan virus selanjutnya. Oleh karena itu, perlu waktu panjang bagi penyakit ini untuk merebak kembali. Menurut Thomas dan Rita, tak ada cara lain untuk mencegah Demam Chikungunya kecuali mencegah gigitan nyamuk serta memberantas tempat perindukan nyamuk dengan tiga M ( Menutup, Menguras dan Mengubur barang bekas yang bisa menampung air ) atau menaburkan bubuk abate pada penampungan air sebagaimana mencegah Demam Berdarah.

DEMAM CHIKUNGUNYA
Virus Chikungunya pertama kali diidentifikasi di Afrika Timur tahun 1952. Tidak heran bila namanya pun berasal dari bahasa Swahlii, Artinya adalah yang berubah bentuk atau bungkuk, Postur penderitanya memang kebanyakan membungkuk akibat nyeri hebat di persendian tangan dan kaki. Virus ini termasuk keluarga Togaviridae, Genus alphavirus, dan ditularkan oleh Nyamuk Aedes Aegypti. Gejalanya adalah demam tinggi, sakit perut, mual, muntah, sakit kepala, nyeri sendi dan otot, serta bintik-bintik merah terutama di badan dan tangan, meski gejalanya mirip dengan Demam Berdarah Dengue, pada Chikungunya tidak ada perdarahan hebat, renjatan ( Schok ) maupun kematian. Masa inkubasi : dua sampai empat hari, sementara Manifestasinya tiga sampai sepuluh hari. Virus ini tidak ada vaksin maupun obat khususnya, dan bisa hilang sendiri, namun, rasa nyeri masih tertinggal selama berhari-hari sampai berbulan-bulan.

Chikungunya, SARS, Lalu Apa Lagi..?
BELAKANGAN ini makin sering berbagai penyakit hewan dari tengah hutan yang merebak (istilah yang dipakai spill over) ke permukiman penduduk. Sebutlah di antaranya St Louis Encephalitis dan Sungai Nil Barat (West Nile), yang telah menimbulkan banyak korban. Peredaran virus memang tak bisa lagi dibatasi oleh posisi geografi. Hutan yang tadinya tertutup menjadi terbuka, daerah yang dulu terisolir kini bisa dengan mudah berhubungan ke mana saja. Moda perpindahan virus bisa berupa apa saja.
Virus Sungai Nil Barat misalnya, berhasil menyeberang dari Afrika ke Amerika bersama migrasi burung. Atau virus Marburg yang sempat masuk ke Eropa lewat monyet-monyet percobaan asal Afrika Tengah. Makin mudahnya transportasi adalah faktor lain yang mempercepat pola penyebaran mikro-organisme patogen. Manusia yang sudah terkena spill over, penyakit hewan yang pindah ke manusia, membawa virus ini ke berbagai kawasan yang dikunjunginya. Terakhir yang dengan cepat merebak adalah sindrom pernapasan akut parah (SARS). Setelah diidentifikasi, diketahui penyebabnya adalah coronavirus. Meski di Indonesia belum ditemukan kasusnya, kepanikan sudah melanda sebagian masyarakat. Padahal, penyakit hewan yang disebabkan oleh virus jenis corona, juga ada di Indonesia.

Chikungunya
Beberapa minggu sebelum kasus SARS merebak, masyarakat Indonesia direpotkan dengan kasus chikungunya. Virus penyebabnya tergolong dalam Famili Togaviridae, yang belum diketahui pola masuknya ke Indonesia.
Sekitar 200-300 tahun lalu virus chikungunya (CHIK) merupakan virus pada hewan primata di tengah hutan atau savana di Afrika. Satwa primata yang dinilai sebagai pelestari virus adalah bangsa baboon (Papio sp), Cercopithecus sp. Siklus di hutan (sylvatic cycle) di antara satwa primata dilakukan oleh nyamuk Aedes sp (Ae africanus, Aeluteocephalus, Ae opok, Ae. furciper, Ae taylori, Ae cordelierri). Pembuktian ilmiah yang meliputi isolasi dan identifikasi virus baru berhasil dilakukan ketika terjadi wabah di Tanzania 1952-1953. Baik virus maupun penyakitnya kemudian diberi nama sesuai bahasa setempat (Swahili), berdasarkan gejala pada penderita. Maka hadirlah chikungunya yang berarti (posisi tubuh) meliuk atau melengkung (that which contorts or bends up). Setelah beberapa lama, perangai virus chikungunya yang semula bersiklus dari satwa primata-nyamuk-satwa primata, dapat pula bersiklus manusia-nyamuk-manusia. Tidak semua virus asal hewan dapat berubah siklusnya seperti itu. Di daerah permukiman (urban cycle), siklus virus chikungunya dibantu oleh nyamuk Ae aegypti. Beberapa negara di Afrika yang dilaporkan telah terserang virus chikungunya adalah Zimbabwe, Kongo, Burundi, Angola, Gabon, Guinea Bissau, Kenya, Uganda, Nigeria, Senegal, Central Afrika, dan Bostwana. Sesudah Afrika, virus chikungunya dilaporkan di Bangkok (1958), Kamboja, Vietnam, India dan Sri Lanka (1964), Filipina dan Indonesia (1973). Chikungunya pernah dilaporkan menyerang tiga korp sukarelawan perdamaian Amerika (US Peace Corp Volunteers) yang bertugas di Filipina, 1968. Tidak diketahui pasti bagaimana virus tersebut menyebar antarnegara. Mengingat penyebaran virus antarnegara relatif pelan, kemungkinan penyebaran ini terjadi seiring dengan perpindahan nyamuk.
Hasil penelitian terhadap epidemiologi penyakit chikungunya di Bangkok (Thailand) dan Vellore, Madras (India) menunjukkan bahwa terjadi gelombang epidemi dalam interval 30 tahun. Satu gelombang epidemi umumnya berlangsung beberapa bulan, kemudian menurun dan bersifat ringan sehingga sering tidak termonitor. Gelombang epidemi berkaitan dengan populasi vektor (nyamuk penular) dan status kekebalan penduduk. Pengujian darah (serologik) penyakit chikungunya sering tidak mudah karena serum chikungunya mempunyai reaksi silang dengan virus lain dalam satu famili. Untuk memperoleh diagnosis akurat perlu beberapa uji serologik antara lain uji hambatan aglutinasi (HI), serum netralisasi, dan IgM capture ELISA.

Virus lain
Virus yang termasuk Famili Togaviridae tidak hanya terdapat di Afrika, tetapi juga di Australia dan Amerika. Salah satu virus dari Australia yang mempunyai kemiripan gejala klinik dengan chikungunya adalah virus Ross River, menimbulkan penyakit epidemic polyarthritis (EP). Tahun 1943, EP mewabah di Australia Bagian Utara (Northern Territory). Dari Australia penyakit ini menyebar ke pulau-pulau di Lautan Pasifik, termasuk Kepulauan Bismark, New Guinea, Solomon, Pulau Rossel, Fiji, Samoa, Wallis, Futuna, Kaledonia Baru , dan Kepulauan Cook. Pada wabah di Fiji jumlah orang terserang mencapai 50.000. Meskipun tidak bersifat fatal, penyakit ini sangat mengganggu karena penderitaan pasien dapat berlangsung beberapa minggu sampai beberapa bulan. EP perlu diwaspadai, terutama untuk daerah Indonesia bagian timur yang berdekatan dengan Australia.
Di Afrika masih ada lagi penyakit virus dengan gejala mirip chikungunya, yakni virus O? nyong nyong (ONN). Istilah “o? nyong-nyong” diambil dari bahasa daerah di Acholi, Uganda, berarti kelemahan sendi. Penyakit ini ditemukan pertama kali di Uganda tahun 1954, kemudian menyebar ke Kenya, Tanzania, Malawi, dan Mozambik. Pada wabah tahun 1954 diperkirakan jumlah penderita dua juta orang. Meskipun demikian, penyakit ini dinilai lebih ringan dibandingkan dengan chikungunya. Dari Amerika ada 3 penyakit virus dalam Famili Togaviridae yang perlu dicatat, yaitu Eastern Equine Encephalitis (EEE), Western Equine Encephalitis (WEE), dan Venezuelan Equine Encephalitis (VEE). Penyakit ini lebih menonjol pada kuda dibandingkan pada manusia, sehingga dipergunakan istilah “equine” yang berarti kuda. Apabila pada chikungunya dan ONN gejala menonjol adalah radang sendi, ketiga penyakit menimbulkan radang otak (encephalitis). Virus-virus ini juga menimbulkan penyakit parah, bahkan bisa fatal pada kuda dan manusia. EEE tersebar di Pantai Timur Amerika, mulai dari bagian selatan Kanada sampai utara Amerika Selatan. WEE terdapat di Pantai Barat Amerika, sedangkan VEE di Venezuela, Kolombia, Ekuador, Peru, ke Utara sampai Meksiko dan Texas.
Sebagai gambaran keganasan wabah EEE tahun 1938 menyebabkan 184.000 ekor kuda terserang dengan angka kematian 90 persen, WEE menyerang 6.000 ekor kuda di California tahun 1930 dan 50 persennya mati.
Pada orang, EEE dapat menimbulkan kematian antara 50-75 persen dari jumlah yang terserang. Mereka yang sembuh banyak yang mengalami kelumpuhan. Dari ketiga virus, VEE telah ada vaksinnya. Namanya TC-83 dan sudah digunakan pada kuda maupun manusia dengan hasil baik. Di Amerika Selatan VEE punya gelombang epidemi sekitar 10 tahun. Di alam bebas, virus WEE dan EEE dilestarikan dalam siklus burung-nyamuk-burung. Pada VEE siklus rodensia-nyamuk-rodensia. Penularan ke manusia dilakukan oleh nyamuk antara lain Aedes sp. Selama musim dingin ketika nyamuk tidak ada, ketiga virus “bersembunyi” pada rodensia, reptilia dan amphibia.
YANG terakhir tentu saja adalah coronavirus yang menghebohkan itu. Sebenarnya ada dua virus corona yang menimbulkan penyakit serius (parah) pada hewan dan menimbulkan kerugian ekonomi cukup besar. Yang pertama adalah penyakit infectious bronchitis (IB) pada ayam. Kematian pada anak ayam umur 2 hari-4 minggu dapat mencapai 90 persen. Penyakit ini ditandai oleh depresi atau lesu, mulut selalu membuka dan menutup karena ada kesulitan bernapas. Penyakit ini tersebar luas di dunia, termasuk Indonesia, namun dapat dikendalikan lewat vaksinasi teratur. Yang kedua, penyakit transmissible gastro-enteritis (TGE) pada babi. Penyakit ini ditemukan di Eropa, Asia, Afrika, Amerika Utara, dan Australia. Gejala yang menyolok pada anak babi adalah diare akut, muntah, dan dehidrasi (kekurangan cairan tubuh). Anak babi yang diserang umumnya mati dalam tempo 5-7 hari. Vaksin TGE juga telah ditemukan. Di Indonesia TGE belum dilaporkan secara resmi, namun ancaman penyakit yang mematikan ini selalu ada.

Globalisasi
Pada zaman yang serba cepat seperti sekarang-seseorang hari ini dapat berada di Amerika atau Afrika, dan esok harinya sudah tiba di Bali atau Jakarta-penyebaran virus amat dimungkinkan. Orangyang tertular penyakit di suatu negara bisa saja membawanya ke Indonesia. Penyakit yang dibawa ada yang dapat hilang dengan sendirinya, namun dapat pula berlanjut siklusnya bila faktor pendukungnya ada. Perdagangan satwa langka yang cukup mendapat sorotan beberapa waktu lalu, bukan tidak mungkin membawa serta virus dari hutan ke tempat yang jauh di negeri orang. Belum lagi nyamuk yang menyelundup ke dalam kabin pesawat terbang. Dengan kata lain, sangat banyak jalur yang dapat dilalui oleh penyakit untuk mencapai daerah baru. Diperlukan kesiapan sumber daya manusia dan kelengkapan laboratorium, dana, serta kemauan agar dapat menjawab penyakit yang sering disebut misterius. (Soeharsono, Dokter hewan di Denpasar).(infeksi.com)

-fz)

filariasis

Filariasis adalah penyakit menular ( Penyakit Kaki Gajah ) yang disebabkan oleh cacing Filaria yang ditularkan oleh berbagai jenis nyamuk. Penyakit ini bersifat menahun ( kronis ) dan bila tidak mendapatkan pengobatan dapat menimbulkan cacat menetap berupa pembesaran kaki, lengan dan alat kelamin baik perempuan maupun laki-laki. Akibatnya penderita tidak dapat bekerja secara optimal bahkan hidupnya tergantung kepada orang lain sehingga memnjadi beban keluarga, masyarakat dan negara. Di Indonesia penyakit Kaki Gajah tersebar luas hampir di Seluruh propinsi. Berdasarkan laporan dari hasil survei pada tahun 2000 yang lalu tercatat sebanyak 1553 desa di 647 Puskesmas tersebar di 231 Kabupaten 26 Propinsi sebagai lokasi yang endemis, dengan jumlah kasus kronis 6233 orang. Hasil survai laboratorium, melalui pemeriksaan darah jari, rata-rata Mikrofilaria rate (Mf rate) 3,1 %, berarti sekitar 6 juta orang sudah terinfeksi cacing filaria dan sekitar 100 juta orang mempunyai resiko tinggi untuk ketularan karena nyamuk penularnya tersebar luas. Untuk memberantas penyakit ini sampai tuntas.

WHO sudah menetapkan Kesepakatan Global ( The Global Goal of Elimination of Lymphatic Filariasis as a Public Health problem by The Year 2020 (. Program eliminasi dilaksanakan melalui pengobatan missal dengan DEC dan Albendazol setahun sekali selama 5 tahun dilokasi yang endemis dan perawatan kasus klinis baik yang akut maupun kronis untuk mencegah kecacatan dan mengurangi penderitanya. Indonesia akan melaksanakan eliminasi penyakit kaki gajah secara bertahap dimulai pada tahun 2002 di 5 kabupaten percontohan. Perluasan wilayah akan dilaksanakan setiap tahun. Penyebab penyakit kaki gajah adalah tiga spesies cacing filarial yaitu; Wucheria bancrofti, Brugia malayi dan Brugia timori. Vektor penular : Di Indonesia hingga saat ini telah diketahui ada 23 spesies nyamuk dari genus Anopheles, Culex, Mansonia, Aedes & Armigeres yang dapat berperan sebagai vector penular penyakit kaki gajah.

Cara Penularan :
Seseorang dapat tertular atau terinfeksi penyakit kaki gajah apabila orang tersebut digigit nyamuk yang infektif yaitu nyamuk yang mengandung larva stadium III ( L3 ). Nyamuk tersebut mendapat cacing filarial kecil ( mikrofilaria ) sewaktu menghisap darah penderita mengandung microfilaria atau binatang reservoir yang mengandung microfilaria. Siklus Penularan penyakit kaiki gajah ini melalui dua tahap, yaitu perkembangan dalam tubuh nyamuk ( vector ) dan tahap kedua perkembangan dalam tubuh manusia (hospes) dan reservoair.
Gejala klinis Filariais Akut adalah berupa ; Demam berulang-ulang selama 3 ? 5 hari, Demam dapat hilang bila istirahat dan muncul lagi setelah bekerja berat ; pembengkakan kelenjar getah bening (tanpa ada luka) didaerah lipatan paha, ketiap (lymphadenitis) yang tampak kemerahan, panas dan sakit ; radang saluran kelenjar getah bening yang terasa panas dan sakit yang menjalar dari pangkal kaki atau pangkal lengan kearah ujung (retrograde lymphangitis) ; filarial abses akibat seringnya menderita pembengkakan kelenjar getah bening, dapat pecah dan mengeluarkan nanah serta darah ; pembesaran tungkai, lengan, buah dada, buah zakar yang terlihat agak kemerahan dan terasa panas (early lymphodema). Gejal klinis yang kronis ; berupa pembesaran yang menetap (elephantiasis) pada tungkai, lengan, buah dada, buah zakar (elephantiasis skroti).

Diagnosis
Filariasis dapat ditegakkan secara Klinis ; yaitu bila seseorang tersangka Filariasis ditemukan tanda-tanda dan gejala akut ataupun kronis ; dengan pemeriksaan darah jari yang dilakukan mulai pukul 20.00 malam waktu setempat, seseorang dinyatakan sebagai penderita Filariasis, apabila dalam sediaan darah tebal ditemukan mikrofilaria. Pencegahan ; adalah dengan berusaha menghindarkan diri dari gigitan nyamuk vector ( mengurangi kontak dengan vector) misalnya dengan menggunakan kelambu bula akan sewaktu tidur, menutup ventilasi rumah dengan kasa nyamuk, menggunakan obat nyamuk semprot atau obat nyamuk baker, mengoles kulit dengan obat anti nyamuk, atau dengan cara memberantas nyamuk ; dengan membersihkan tanaman air pada rawa-rawa yang merupakan tempat perindukan nyamuk, menimbun, mengeringkan atau mengalirkan genangan air sebagai tempat perindukan nyamuk ; membersihkan semak-semak disekitar rumah.

Pengobatan :
secara massal dilakukan didaeah endemis dengan menggunakan obat Diethyl Carbamazine Citrate (DEC) dikombinasikan dengan Albenzol sekali setahun selama 5 ? 10 tahun, untuk mencegah reaksi samping seperti demam, diberikan Parasetamol ; dosis obat untuk sekali minum adalah, DEC 6 mg/kg/berat badan, Albenzol 400 mg albenzol (1 tablet ) ; pengobatan missal dihentikan apabila Mf rate sudah mencapai < 1 % ; secara individual / selektif; dilakukan pada kasus klinis, baik stadium dini maupun stadium lanjut, jenis dan obat tergantung dari keadaan kasus.(infeksi.com)

-fz-

Lihat Gambar

Virus H1N1

Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari mengatakan virus influenza A (H1N1) atau flu babi sudah dinyatakan tidak lebih ganas dari penyakit influenza biasa.

“Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sudah menyatakan bahwa ini tidak lebih ganas dari flu biasa. Tapi kita tetap melanjutkan upaya pengendalian yang sudah dilakukan,” katanya di Jakarta.

Sebelumnya Direktur Jenderal WHO Margaret Chan menyatakan bahwa hampir semua pasien yang mengalami gejala penyakit influenza A (H1N1) bisa pulih total dalam satu minggu bahkan tanpa perawatan medis sekalipun.

Beberapa negara dengan kasus influenza A (H1N1) tinggi termasuk Amerika Serikat, kata dia, sudah tidak lagi menerapkan prosedur khusus untuk mengendalikan penyakit yang awalnya merebak di Meksiko itu.

“Mereka sudah meniadakan alat pemindai suhu, tidak mengharuskan pasien dirawat di rumah sakit dan tidak memberikan obat anti virus oseltamivir pada kasus infeksi ringan,” katanya.

Apalagi, dia menambahkan, virus influenza A (H1N1) di Denmark, Jepang, Hongkong, dan China dilaporkan sudah resisten terhadap oseltamivir atau yang biasa dijual dengan merek dagang Tamiflu.

Namun demikian, dia kembali menegaskan, pemerintah tetap melanjutkan upaya pengendalian penyakit influenza A (H1N1) baru tersebut supaya penyebarannya tidak meluas.

“Upaya kesiapsiagaan tetap dilanjutkan meski untuk itu biayanya cukup besar,” katanya.

Ia mengatakan, pemerintah akan tetap memasang alat pemindai suhu tubuh di terminal kedatangan internasional serta meminta semua penumpang dari negara terdampak mengisi kartu waspada kesehatan (health allert card) untuk menjaring orang-orang yang diduga terinfeksi virus influenza A (H1N1).

Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP), rumah sakit rujukan dan laboratorium kesehatan, dia melanjutkan, juga tetap disiagakan untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan yang muncul terkait penularan penyakit tersebut.

Masyarakat juga diimbau agar tetap mewaspadai penyakit itu dengan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, mengenakan masker ketika terserang flu, menerapkan etika batuk dan bersin serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika kondisinya tidak membaik.(kapanlagi.com)

-fz)

Virus influenza makin mengancam manusia. Hasil penelitian yang dilakukan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, ion Plasmacluster mampu menonaktifkan virus influenza tipe A (H1N1).

Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia melakukan eksperimen dengan menggunakan virus influenza manusia A H1N1. H1N1 adalah galur virus Influenza yang mempunyai tingkat patogenik rendah dan menyebabkan sebagian besar influenza pada manusia.

Eksperimen dilakukan di fasilitas BSL-3(4) di Institute of Human Virology and Cancer Biology-University of Indonesia(IHVCB-UI). Eksperimen dilakukan selama 6 bulan meliputi kultur virus untuk mendapatkan titer yang diharapkan.

Data yang diperoleh dari eksperimen inaktivasi virus pada permukaan benda menunjukkan titer virus menurun sedikitnya 90% dari titer virus yang digunakan dalam eksperimen.

Inaktivasi virus aerosol oleh ion plasmacluster mengindikasikan adanya penurunan 90% dari titer virus awal. Berdasarkan hasil itu dapat dikatakan Ion Plasmacluster mempunyai potensi digunakan dalam pengembangan sistem yang ditujukan untuk mengurangi jumlah virus influenza infeksius di dalam ruangan tertutup.

“Air Purifier Plasmacluster diproduksi khusus untuk menjawab persoalan manusia akan udara bersih dan sehat. Tanpa kita sadari, udara di dalam rumah sendiri bisa 5 sampai 10 kali lebih berpolusi dan kotor dibandingkan dengan udara di luar rumah” (inilah.com)

-fz-

Tanggal 11 Agustus 2009, Badan Litbangkes Depkes melaporkan hasil konfirmasi laboratorium positif influenza A H1N1 sebanyak 11 orang terdiri dari 3 laki-laki dan 8 perempuan, semuanya WNI. Dua orang mempunyai riwayat perjalanan ke Korea, tujuah orang tidak ada riwayat perjalanan ke luar negeri dan dua orang lagi tidak jelas perjalanannya, kata Prof. dr. Agus Purwadianto, SH. Sp. FK, Kepala Badan Litbangkes Depkes.

Tambahan kasus baru berasal dari 7 provinsi yaitu : Bali (2 orang), Banten.(1 orang), DKI Jakarta (2 orang), Jawa Barat (1 orang), Jawa Tengah (2 orang), Jawa Timur (1 orang) dan Yogyakarta (2 orang).

Sementara itu Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama, Sp.P (K), MARS, Dirjen P2PL Depkes menambahkan, secara kumulatif kasus positif influenza A H1N1 sampai 11 Agustus berjumlah 823 orang terdiri dari 459 laki-laki dan 364 perempuan ( 3 orang meninggal dunia ), tersebar di 23 provinsi.

Prof. Tjandra menjelaskan, sejak ditetapkan sebagai pandemi oleh WHO (11/06/2009), di seluruh dunia sampai 4 Agustus 2009 sudah 168 negara yang melaporkan kasus influenza A H1N1 dengan 162.380 kasus positif, 1.154 diantaranya meninggal dunia (CFR = 0.71). Penyakit ini ditularkan melalui kontak langsung dari manusia ke manusia lewat batuk, bersin atau benda-benda yang pernah bersentuhan dengan penderita, karena itu penyebarannya sangat cepat namun dapat dicegah.

Cara yang efektif untuk mencegah yaitu menjaga kondisi tetap sehat yaitu makan dengan gizi seimbang, beraktivitas fisik/berolahraga, istirahat yang cukup dan berperilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Diantaranya, mencuci tangan dengan sabun atau antiseptik, bila batuk dan bersin tutup hidung dengan sapu tangan atau tisu. Jika ada gejala Influenza minum obat penurun panas, gunakan masker dan tidak ke kantor/sekolah/tempat-tempat keramaian serta beristirahat di rumah selama 5 hari. Apabila dalam 2 hari flu tidak juga membaik segera ke dokter, ujar Prof. Tjandra.

Upaya kesiapsiagaan tetap dijalankan pemerintah yaitu: penguatan Kantor Kesehatan Pelabuhan (thermal scanner dan Health Alert Card wajib diisi); penyiapan RS rujukan; penyiapan logistik; penguatan pelacakan kontak; penguatan surveilans ILI; penguatan laboratorium, komunikasi, edukasi dan informasi dan mengikuti International Health Regulations (IHR).

Disamping itu juga dilakukan community surveilans yaitu masyarakat yang merasa sakit flu agak berat segera melapor ke Puskesmas, sedangkan yang berat segera ke rumah sakit. Selain itu, clinical surveilans yaitu surveilans severe acute respiratory infection (SARI) ditingkatkan di Puskesmas dan rumah sakit untuk mencari kasus-kasus yang berat. Sedangkan kasus-kasus yang ringan tidak perlu dirawat di rumah sakit, tambah Prof. Tjandra.

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Departemen Kesehatan. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon: 021-52907416-9, faks: 52921669, Call Center: 021-30413700, atau alamat e-mail puskom.publik@yahoo.co.id, info@puskom.depkes.go.id, kontak@puskom.depkes.go.id.

(dikutip dr depkes.go.id)

-fz-

Dulu kita mengenal penyakit demam berdarah datang di kala musim hujan tiba. Tapi kenyataannya tidaklah demikian. Penyakit ini bisa terjadi di semua musim. Kenapa ?? Sebelum pertanyaan tersebut terjawab, ada baiknya kita mengenal dulu “Demam Berdarah, Siklus Nyamuk Demam Berdarah dan tempat perkembangbiakannya”.

Demam berdarah merupakan penyakit yang disebabkan virus dengue yang masuk ke dalam tubuh penderita melalui gigitan nyamuk aedes aegypti. jadi nyamuk yang dapat menularkan penyakit mematikan ini bukan sembarang nyamuk, namanya unik, Aedes Aegypti atau yang kita kenal dengan si belang (hitam putih).

Si belang merupakan merupakan nyamuk elit, kenapa elit?..Karena nyamuk ini hanya bisa berkembangbiak pada tempat penampungan air bersih yang takberalaskan tanah. Ia bisa berkembang di dalam dandi luar rumah. Tempat penampunagn itu bisa disenagja ataupun tidak disengaja. Yang disenagaja seperti bak mandi dan tempat penampungan air minum, sedangkan yang tak disengaja seperti kaleng- kaleng dan ban bekas yang ada di luar rumah, pagar bambu, tempurung kelapa, dsb

Hati- hati terhadap nyamuk ini, hanya bisa menggigit pada siang hari, karena itu pada saat tidur siang kita harus waspada, gunakan obat nyamuk dan bayi harus diberi kelambu.
Layaknya manusia, si belangpun mempunyai siklus hidup. Mulai dari larva, pupa hingga dewasa membutuhkan waktu yang relatif singkat lebih kurang 10 hari. Satu ekor nyamuk mampu bertelur hingga 100 butir. Kemudian telur2 tersebut berkembang menjadi larva dan pupa yang kita kenal dengan jentik. Nah, jentik-jentik inilah yang akan berkembang menjadi nyamuk dewasa yang akan menggigit dan menghisap darah manusia.

Nyamuk aedes aegypti akan mengandung virus demam berdarah apabuila ia telah menggigit dan menghisap darah penderita. Setelah beberapa hari virus itu akan berkembang di dalam tubuh nyamuk, barulah ia bisa menularkan ke manusia sehat melalui gigitannya.

Penderita demam berdarah mengalami gejala yang bertahap. Hari pertama ditandai dengan panas mendadak terus- menerus, badan menjadi lemah, pada tahap ini sulit dibedakan denagn penyakit lain, makanya satu hari demam belum bisa dikatakan demam berdarah. Pada hari kedua atau ketiga timbul bintik-bintik merah. Bintik merah ini, lebam atau ruam pada kulit muka, dada, lengan, kaki dan nyeri ulu hati. Bintik merah ini mirip dengan bekas gigitan nyamuk.

Pada gejala yang berat bisa mengalami mimisan, muntah darah dan berak darah. Tapi nampaknya penyakit ini telah mengalami transisi epidemiologi, dimana ada beberapa kasus DBD tidak terdapat bintik merah. Karena itu, begitu demam tinggi waspadailah demam berdarah. Pada hari ketiga sam[ai ketujuh panas akan turun secara tiba-tiba. Kemungkinan selanjutnya penderita sembuh, atau keadaanmemburuk, kadang- kadang kesadarannya menurun. Sampai saat ini belum ditemukan anti virus dengue ini. Cuma yang bisa diobati hanyalah gejala dan komplikasi penyakitnya.

Apa yang harus dilakukan apabila kita temukan angota keluarga mengalami gejala demam berdarah??Apabila penderita demam tinggi segera beri kompres dan beri obat penurun panas serta anjurkan banyak mium air putih. Jika pertolongan pertama tadi masih membuat penderita gelisah, sgeralah bawa ke tempat pelayanan kesehatan terdekat. Untuk memastikan seseorang positif demam berdarah harus melalui test darah di laboratorum, karena kalau hanya berpedoman pada gejala saja belum bisa dipastikan positif demam berdarah. Ingat!!banyak penyakit yanggejalanya hampir sama.

Walaupun virus DBD belum ada obatnya, tindakan pencegahan dapat kita lakukan. Kita mengenal Gerakan 3M (Menguras, Menutup dan Mengubur) bahkan sekarang 3M plus. Disamping itu juga memakai kelambu disaat tidur siang, memakai repellent (obat nyamuk poles), memasang oabt nyamuk, jendela rumah diberi kawat kassa, jangan biarkan pakaian bergelantungan dibelakang pintu karena si belang suka bersarang di tempat gelap. Selain itu, juga dengan menaburkan bubuk abate pada tempat- tempat umum dan melakukan fogging (pengasapan).

Nah, cara terakhir ini (fogging) jangan dikira paling ampuh untuk membasmi nyamuk DBD. Cara ini hanya bersifat sesaat, karena hanya bisa mematikan nyamuk pada saat fogging itu dilakukan atau bahkan cuma menmbuat nyamuk pusing. Bagaimana dengan jentik2nya??Inilah yang seharusnya kita brantas krena dari situlah nyamuk dewasa akan berkembang. Karena itu 3M adalah cara yang paling efektif untuk mencegah perkembangbikan si belang.

Menguras tempat penampungan air bersih seperti bak mandi, dilakukan minimal seminggu sekali, jangan biarkan lebih dari seminggu. Supaya nyamuk tidak berkesempatan untuk bertelur, tempat penampungan air bersih sbaiknya ditutup rapat. NAh, terjawab sudah kenapa penyakit DBD tidak mengenal musim.

Sekarang ujian nasional telah selesai, pasti banyak keluarga telah merencanakan liburan kemana. Jika Ingin bepergian ke luar kota, jangan lupa kosongkan dulu tempat penampungan air agar nyamuk tak bertelur. Begitu juga dengan mengubur barang- barang bekas yang ada di sekeliling rumah kita. Kalau sekiranya tidak digunakan lagi lebih baik dikubur atau ditelungkupkan saja agar tidak menimbulkan genangan air bila ujan tiba.

Coba kita renungkan bahayanya !!Mencegah lebih baik dari pada mengobati, demikian motto kesehatan yangpaing populer. banyak masyarakat menyadari moto ini kalau ia atau anggota keluarga telah jatuh sakit. Bayangkan betapa banyak pengorbanan yang dilakukan apabila anggota keluarga kita menderita sakit DBD, diantaranya waktu banyak tersita untuk menunggui penderita di rumah sakit, mengeluarkan biaya pengobatan dan belum lagi faktor psikis bahwa si penderita mungkinkah terselamatkan. Oleh karena itu, mari kita lakukan gerakan 3M yang mungkin hanya memakan waktu kurang lebih 1 jam dalam seminggu. Mari kita cegah demam berdarah bersama-sama demi keselamatan Warga Negara Indonesia.

-Devi,SKM.-.fz-

LAPORAN PENYELIDIKAN KLB KERACUNAN PANGAN

DI PANGERAN BEACH HOTEL KELURAHAN FLAMBOYAN BARU KECAMATAN PADANG BARAT KOTA PADANG

PADA TANGGAL 14 NOVEMBER 2007

(dr.Hj.Gentina, dr. Fionaliza, MKM, Mardia Nelisna, SKM)

 

I.                   PENDAHULUAN

1.      Latar Belakang

Penyakit yang disebabkan oleh pangan masih merupakan salah satu penyebab utama kematian dan kesakitan di Indonesia. Pangan merupakan jalur utama penyebaran patogen dan toksin yang diproduksi oleh mikroba patogen. Pangan juga dapat menimbulkan masalah serius jika mengandung racun akibat cemaran kimia, bahan berbahaya maupun racun alami yang terkandung dalam pangan, yang sebagian diantaranya menimbulkan KLB keracunan pangan.

Kejadian Luar Biasa (KLB) Keracunan Pangan adalah suatu kejadian dimana terdapat dua orang atau lebih yang menderita sakit dengan gejala yang sama atau hampir sama setelah mengkonsumsi pangan, dan berdasarkan analisis epidemiologi, pangan tersebut terbukti sebagai sumber penularan. KLB keracunan pangan masih menjadi masalah kesehatan masyarakat, terutama di perkotaan, pemukiman dan perindustrian.

Keracunan pangan secara umum disebabkan oleh bahan kimia beracun (tanaman, hewan, metabolit mikroba) kontaminasi kimia, mikroba patogen dan non bakteri (parasit, ganggang, jamur, virus, spongiform enchaphalopathies).

Gejala dan tanda-tanda klinik keracunan pangan bervariasi tergantung pada jenis etiologinya. Secara umum gejala keracunan pangan dapat digolongkan kedalam 6 kelompok, yaitu :

  1. Gejala utama yang terjadi pertama-tama pada saluran gastrointestinal atas (mual, muntah).
  2. Gejala sakit tenggorokan dan pernafasan.
  3. Gejala utama terjadi pada saluran gastrointestinal bawah (kejang perut, diare).
  4. Gejala neurologik (gangguan penglihatan, perasaam melayang, paralisis).
  5. Gejala infeksi umum (demam, menggigil, rasa tidak enak, letih, pembengkakan kelenjar limfe).
  6. Gejala alergik (wajah memerah, dan gatal-gatal)

        Untuk mengidentifikasi etiologi KLB keracunan pangan dapat dilakukan dengan mermeriksa spesimen tinja, air kencing, darah atau jaringan tubuh lainnya, pemeriksaan muntahan serta pemeriksaan sumber makanan yang dimakan. Dengan memperhatikan gejala dan didukung dengan hasil pemeriksaan laboratorium ini dapat diketahui penyebab KLB keracunan pangan.

Pada hari Rabu tanggal 14 November 2007 berdasarkan laporan peserta pertemuan Bimbingan, Penetapan dan Sosialisasi Sosialisasi UU Perlindungan Konsumen No. 8, GAKY, dan BPSK) yang diadakan oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Padang di Pangeran Beach Hotels Padang, telah terjadi keracunan pangan di Pangeran Beach Hotels. Pada hari tersebut jam 14.00  dilaporkan  sebanyak 21 peserta pertemuan mengalami keluhan mual, muntah, pusing serta sebagian kecil diare. Peserta pertemuan memakan snack berupa lemper (ketan yang diisi daging ayam), cake coklat) serta minum teh atau kopi susu pada saat selesai pembukaan acara pada jam 09.00 pagi. Lima belas menit kemudian  tiga orang peserta mulai merasakan mual, dan pusing. Kemudian beberapa waktu ke depan sebagian peserta mulai merasakan keluhan yang sama.

Pada jam 14.30 tanggal 14 November 2007 tsb, 17 orang peserta pertemuan dirujuk ke rumah sakit Yos Sudarso dan 4 orang dirujuk ke RS Selasih Berdasarkan pemeriksaan dokter di RS Selasih 1 orang pasien boleh pulang, sedangkan sisanya tetap dirawat di  kedua rumah sakit tersebut. Pada jam 14.30 telah dilakukan pengamanan dan pengambilan sample berupa lemper, cake coklat, susu serta teh. Pada tanggal 15 November 2007, jumlah korban keracunan yang dirujuk dan dirawat bertambah sebanyak 15 orang yang dirujuk ke RS Yos Sudarso. Jadi sampai tanggal 15 November 2007 jumlah korban keracunan yang dirujuk ke RS sebanyak 36 orang.

 

2.Tujuan

2.1 Tujuan Umum

Mengetahui besar dan luasnya masalah serta gambaran epidemiologi peningkatan kasus diduga keracunan pangan di Pangeran Beach Hotel Padang.

 

2.2 Tujuan Khusus

   - Memastikan KLB keracunan pangan.

   - Mengetahui distribusi kasus secara epidemiologi .

   - Megetahui Attack Rate kasus keracunan pangan

   - Mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian tersebut.

   - Mengetahui besarnya masalah yang ditimbulkan

 

  II.    METODOLOGI

Penyelidikan KLB keracunan pangan ini menggunakan rancangan penelitian epidemiologi deskriptif dengan menggunakan desain kross seksional. Data primer diperoleh dengan melakukan investigasi langsung di Pangeran Beach Hotel, RS Selasih dan Yos Sudarso Padang.

 

III. HASIL INVESTIGASI

Pada hari Rabu tanggal 14 November 2007 tim Surveilance Keracunan Pangan DKK turun ke Pangeran Beach Hotels serta ke RS Selasih dan Yos Sudarso untuk melakukan investigasi. Dari 80  orang yang ikut makan snack tersebut ternyata  sebanyak 36 orang merasakan keluhan.

Dari hasil wawancara didapatkan bahwa sebagian besar peserta yang memakan lemper merasakan keluhan.

 

Tabel 1 : Distribusi Gejala KLB Keracunan Pangan di Pangeran Beach Hotel  Kelurahan Flamboyan Baru  Kecamatan Padang Barat Pada Tanggal 14 November 2007

 

No

Gejala dan Tanda

Jumlah Kasus

%

1.

2.

3.

4.

5.

Mual

Muntah

Pusing

Kejang perut

Diare

36

36

34

7

7

100

100

94,4

19,4

19,4

 

Dari tabel diatas terlihat bahwa gejala yang paling dominan adalah mual dan muntah (100 %).

3.1      Definisi Kasus

Berdasarkan distribusi frekwensi  menurut gejala seperti terlihat pada Tabel 1 di dapatkan definisi kasus sebagai berikut  :

Orang yang hadir dalam jamuan makan snack pada pertemuan tanggal 14 November 2007 di Pangeran Beach Hotel Kelurahan Flamboyan Baru Kecamatan Padang Barat dengan gejala mual, muntah, dan pusing dengan atau tanpa gejala lain.

 

3.2      Waktu

            Waktu terjadinya penyakit dapat dilihat pada tabel masa inkubasi dan kurva epidemik.

Tabel 2 : Masa Inkubasi Kasus KLB Keracunan Pangan di Pageran Beach Hotel        Kelurahan Flamboyan Baru Kecamatan Padang Barat

Pada Tanggal 14 November 2007

 

No

Masa Inkubasi

Kasus

%

1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

10.

11.

12.

15 menit

20 menit

30 menit

1 jam

2 jam

2,5 jam

3 jam

3,5 jam

4 jam

4,5 jam

5 jam

5,5 jam

3

1

3

1

8

7

4

2

4

1

1

1

8,3

2,7

8,3

2,7

22,2

19,4

11,1

5,5

11,1

2,7

2,7

2,7

 

Gambar 1: Kurva Epidemik KLB Keracunan Pangan Di Pangeran Beach Hotel

Kelurahan Flamboyan Baru Kecamatan Padang Barat.

r

Waktu terpapar tanggal 14 November mulai jam 09.00 s/d 09.30 :

·         Median masa inkubasi 2 jam (120 menit)

·         Masa inkubasi terpendek =  15 menit

·         Masa inkubasi terpanjang = 5,5 jam (330 menit ).

·         Masa inkubasi rata-rata = 132 menit

Dari masa inkubasi rata-rata dan gejala yang dominan muncul mual dan muntah 100 % diduga penyebabnya adalah Staphylococcuc Aureus dan Bacillus Aureus.

 

Attack Rate :

            Pada kasus ini di dapatkan attack rate adalah 36/80 x 100 % = 45 %, dengan case fatality rate 0 %.

  

3.3              Orang

Tabel 3 : Distribusi Kasus KLB Keracunan Pangan di Pangeran Beach Hotel

Kelurahan Flamboyan Baru Kecamatan Padang Barat

Menurut  Golongan Umur

 
 

PROPORSI KASUS BERDASARKAN GOLONGAN UMUR

 

15-19 th

3%

 

 

20-44 th

47%

 

 

45-54 th

42%

 

 

55-64 th

8%

 

 

 
 

 

 

Dari diagram pie diatas terlihat bahwa kasus terbanyak terjadi pada golongan umur 20-44 tahun (47,2 %) diikuti golongan umur 45-54 th (41,6 %).

 

Tabel 4 : Jumlah Kasus KLB Keracunan Pangan di Pangeran Beach Hotel

Kelurahan Flamboyan Baru Kecamatan Padang Barat

Menurut  Jender

 

No

Jenis Kelamin

Kasus

%

Meninggal

1.

 

2.

Laki-laki

 

Perempuan

25

 

11

69,4

 

30,6

0

 

0

 

Dari tabel diatas terlihat bahwa laki-laki merupakan kasus terbanyak (69,4 %).

 

 

 

3.3       Tempat

            Tempat Kejadian adalah Pangeran Beach Hotel kelurahan Flamboyan Baru Kecamatan Padang Barat Padang.

 

3.4       Pemeriksaan Laboratorium

Untuk membantu menegakkan penyebab keracunan pangan ini dilakukan pengambilan sampel berupa 200 gram lemper dan cake coklat, kopi, serta susu yang  kemudian dikirim ke Balai Pemeriksaan Obat dan Makanan di Gunung Panggilun. Hasil pemeriksaan Laboratorium menunjukkan adanya Staphylococcus Aures.

 

IV. TINDAKAN YANG TELAH DILAKUKAN

1.      Pelacakan kasus ke lapangan.

2.     Pengamanan, pengambilan, serta pengiriman sample Ke laboratorium Kesehatan Gunung

       Pangilun  Padang.

3.      Pengobatan penderita yang dirujuk ke RS Yos Sudarso dan Selasih

4.      Pengawasan dan penyuluhan di Tempat Pengolahan Makanan.

 

V.      KESIMPULAN

          Berdasarkan hasil investigasi dapat disimpulkan:

  1. Telah terjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) Keracunan Pangan di Pangeran Beach Hotel pada tanggal  14 November sampai 15 November 2007.
  2. Kasus lebih banyak menyerang Laki-laki (69,4%)  dibanding perempuan dan lebih banyak menyerang usia 20-44 tahun  (47 %). Kasus dimulai tanggal 14 November 2007 dan berakhir tanggal 15 November 2007.
  3. Attack Rate Keracunan makanan  sebesar 45 %  dengan Case Fatality Rate 0%.
  4. Dari gejala, masa inkubasi rata-rata serta keluhan yang dirasakan penderita keracunan makanan, penyebab keracunan ini dicurigai  adalah Bacillus Cereus atau Stapyllococcus Aureus. Hasil laboratorium menunjukkan positif Staphylococcus Aureus.

 

VI.          SARAN

Perlunya ditingkatkan penyuluhan tentang cara mengolah, serta menyimpan makanan yang higienis.       

 

 

-admin-

Halaman Berikutnya »